Tampilkan postingan dengan label Siklus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Siklus. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Juli 2012

*MoMentum*

Hal yang paling buat jegger dalam hidup ini adalah saat melalui semuanya sendiri, tanpa mama-papa yang memanja, tapa kakak-teteh yang memotivasi, atau tanpa suara mbah yang parau renta namun buat nyess. Tapi ternyata, ada saja yang selalu setia membersamai, wah apa itu ta? Dua malaikat dikanan-kiri, yang sigap mencatat secara fisikly maupun yang tersembunyi di dalam hati. Namun yang paling special adalah saat yang membersamai kita adalah Allah. Allah yang membuat kita bisa mengaburkan air mata, walaupun saat itu kita rasanya sudah tak bisa menahan tumpahan air mata. Allah yang selalu berbisik perlahan, bahwasanya setiap kejadian adalah hikmah sebuah kedekatan. Dekat bukan sembarang dekat, tapi dekatnya hanya sehasta.
Betapa beruntungnya kita punya Tuhan Allah, yang maha Rahman dan Rahim.. cobalah bayangkan kalo disetiap tarikan dan hembusan nafas kita itu tidak gratis. Berapa banyak bayaran yang harus kita berikan disetiap persekian detik. Hufftt hahh.. *Izin narik nafas dulu dah* teong ups kebalik *toeng

Dekat yang sehasta, saat kita pernah jemu berkelu pada bukan selain Dia. Siapa lagi yang tak pernah bosan mendengarkan, siapa lagi yang selalu setia menunggui kita, kitanya saja yang terkadang keterlaluan, tak pernah sadar *Yangbutuh itu siapa ha?* Tapi sekalipun kita telah jauh, Allah tak pernah alfa memberikan Rahman dan RahimNya kepada kita. Oalahh.. kenapa kita menjadi manusia selalu lupa akan syukur. Apalagi yang kurang di dalam kehidupan ini? Semua lengkap, anggota tubuh lengkap, garis keluarga lengkap, atau secara kebutuhan kitapun dicukupi. Ya cukup, batasan rasa cukup ini yang terkadang tidak kita miliki. Sehingga kita meminta lebih dan lebih. Tak masalah bagiNya, karena Dia juga Maha Kaya Raya. Apa yang tidak Dia punya *bulan, Planet, galaksi,*bintang? *Blushingggg*. Tapi lagi-lagi esensi kita dalam meminta, atau prioritasnya terkadang tak sesuai dengan yang kita butuhkan, kita bukan butuh hanya sekedar menginginkan. Apalagi kita meminta hanya membawa tangan yang menengadah, sedang setelah dapat, kita lupa azas hak-kewajiban. Kita hanya menuntut hak, tanpa mau melakukan kewajiban, kalau kewajiban saja tidak, bagaimana dengan yang sifatnya sunah.

Sudah lupa kewajiban, kita lupa lagi untuk bersyukur dengan memuji Kekasih kita ini. Hanya sekedar melafazkan rasa syukur pun kita lalai, bagaimana kalo Allah pergi dari kita. Allah memberikan saja apa yang kita minta, tanpa mau-tau, atau lebih tepatnya tanpa peduli apakah hal yang kita minta dibutuhkan atau tidak untuk kita. Bukankah Allah memberi sesuatu sesuai dengan kemampuan hambaNya. Orang kaya raya, yang tak siap kaya raya mungkin akan bahagia-bahagia saja mendapatkan kekayaaanya yang –cumatitipan. Tapi sayangnya esensi dari kekayaan yang dia miliki akan berbeda.

Kita terkadang bukan lupa atas anugerah yang diberikan Allah, tapi kita terlalu banyak main hitung-hitungan. Hitung-hitungan seorang yang Cuma tamatan SMA atau tamatan strata satu,
Mana bisa disamakan dengan hitung-hitungan untuk anugerah dari Allah yang berlimpah. Ibaratnya kita tuliskan nikmat-nikmat itu di atas dedaunan di bumi, maka lautpun tak akan cukup tuk dijadikan tintanya.

Segala puji bagi Allah yg telah memberi kepada kita kecukupan & kepuasan yg tidak terabaikan & tidak tertolak (HR. Bukhari).


Aku renta dalam gelimang dosa
Aku jatuh bersimpuh noda
Duhai rabbi
Aku mengharap syurga?
Sedang amalku tak seberapa
Aku merinduMU
Sedang cintaku tidak bekerja

Sudahkah kita bersyukur hari ini???

Senin, 18 Juni 2012

Allah Tidak Butuh Shalat Kita

Hari itu saya khususkan do’a saya Cuma satu 

“Ya Allah khusukkanlah shalatku dan segala ibadahku”

Tak tau apa yang menjadi sebabnya, tiba-tiba saja saya kehilangan fokus saat beribadah. Mungkin juga akibat kerotangnya hati. Ketika melaksanakan ibadah ada-ada saja bayangan yang melintas, ketika membaca buku teringat shalat yang grasak grusuk,. Ketika shalat, teringat membaca buku yang belum terselesaikan. Bahkan terkadang rasa gelisah muncul akibat masalah yang menuntut diselesaikan. Itu terjadi bukan hanya ketika shalat, tetapi juga ketika berdo’a dipenghujung shalat. Semuanya dilakukan dengan tergesah-gesah. Maka dari itu saya coba berdo’a sekhusuk2nya untuk dikhususkan ketika shalat dan melakukan semua ibadah.
Dan Allah menjawab do’a saya. Hari sabtu kemarin ketika baru terbangun dari tidur siang,, dengan kondisi senyap-senyap, saya mendengar apa yang disampaikan Ustadz dalam acara “Damai Indonesiaku”, Ustad itu membahas tentang shalat, kebetulannya Uztadz ini membahas tentang “Shalat khusuk”. Ia kemudian bercerita..

Seorang kiya’i dipesantrennya ingin mengajarkan tentang khusuk pada seorang muridnya. Ia kemudian memanggil muridnya itu, selanjutnya berkata “maukah kau tau bagimana khusuk itu”, muridnya pun menjawab “iya kiyai”. Selanjutnya Ustadz itu meminta saang murid untuk menungang kuda pambil membawa secangkir gelas, dengan syarat gelas itu tidak boleh tumpah sedikitpun. Murid tadipun melaksanakannya, ingá ia kembali lagi ke pesantren. Setelah melihat muridnya kembali, sang kiai mendapati gelas yang dibaawa muridnya tadi masih berisi air Severi tadi. Kemudian sang kiyai bertanya “bagaimana, apakah kau sudad merasakan khusu’?” “belum kiyayi, justru saya teringat-ingat akan air itu”. Lalu kiyai itu menjelaskan makna dari apa yang dia minta, katanya ”apakah ketika kau menunggang kuda kau melihat ornag mandi di sungai, berpa jumlahnya?” ”aku melihat kiyai, tapi aku tak begitu mempedulikan berapa jumlahnya, karena aku fokus dengan air ini”. ”apakah ketika kau menunggang kuda, kau melalui gunung. Kau ingat berapa banyak gunung yang kau lalui” ”iya aku melaluinya, tetpai aku juga tidak memperdulikan berapa banyak yang kulalui, karena aku fokus agar air ini tidak tumpah”. ”seperti itulah khusuk, ketika kau melakukan suatu pekerjaan misalnya shalat. Kau tidak akan menggubris apapun yang terjadi di sekitarmu, karena fokusmu hanya pada Allah”.

Kemudian ustadz itu bicara lagi, bahwasanya Allah tak butuh shalat kita. Tanpa shalat-shalat kitapun Allah tetap menjadi yang Maha Kuat, Maha Perkasa, Maha Berilmu, dan Maha semuanya.
Mengutip kata-kata dari buku yang saya sadur ke dalam isi blog saya terdahulu:
Apakah perlunya Allah SWT dengan shalatnya manusia? Apakah dengan shalatnya manusia seantero jagat raya ini akan menambah kemuliaan dan keperkasaan Allah SWT atau akankah mengurangi kemuliaan dan keagunganNya? Atau misalnya seluruh manusia di muka bumi menjadi kafir mapun musyrik menyembah berhala (paganisme) ? jelas sama sekali tidak, bahkan jika Allah SWT memusnahkan seluruh umat manusia dan menggantikannya dengan makhluk lain, maka keagungan, keperkasaan,dan kemuliaan Allah SWT tidak bertambah dan tidak berkurang alias tetap saja seperti semula, jadi Allah SWT tetap Maha Perkasa dan Maha Kuasa.
Orang beriman itu bukan tunduk patuh di hadapan Allah SWT akan tetapi merasakan getaran cinta kepada Allah SWT dan rasa ingin menyandarkan diri kepada apa yang diperintahkanNya. Melalui wahyu, Allah SWT meninggikan mansia kepadaNya sehingga dalam dirinya timbul prasangka baik terhadap Sang Pencipta. Karena itu ada hubungan sukarela,kerinduan,dan prasangka yang baik antara Dia dengan ciptaanNya, dengan demikian pengertian islam harus dipandang sebagai agama yang penuh dengan muatan-muatan spiritual demi kepuasan batin (ruhani) manusia.
Shalat, kata Sayyid Quthb, adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dan kekuatan yang abadi. Ia adalah waktu yang telah dipiih untuk mempertemukan setetes air yang teroutus dengan sumber yang tak pernah kering. Ia adalah kunci perbendaharaan yang mencukupi, memuaskan, dan melimpah. Ia adalah pembebasan dari batas-batas realita bumi yang kecil menuju realita alam raya. Ia adalah angina, embun dan awan di siang hari bolong nan terik. Ia adalah sentuhan lembut pada Hati yang letih dan payah (Dyayadi dalam http://penavina.blogspot.com/2011/05/muara-cinta-timbul-dan-tenggelam.html, 2011).
Kemudian malamnya, IRMA kami memperingatkan hari Isra Mi’raj, tanpa maksud appaun, hanya sekedar ingin mensyi’arkan dakwah kepada warga. Sekalipun banyak yang berkata memperingatinya adalah bid’ah, tapi malam itu Ustadz yang menyapaikannya menyanggah hal tersebut. ”kita di sini buka untuk merayakan, tapi memperingati momen. Sehingga kita bisa sadar hakikat shalat itu seperti apa. Walaupun tidak hanya saat ini saja kita belajar memhami hal itu”. Saya juga masih bingung terkait pendapat bid’ahnya memperingati Isra Mi’raj, maksudnya di sinikan daripada orang-orang sibuk menonton EURO lebih baik kita berkumpul di majelis ilmu untu saling berbagi dan nasehat-menasehati. :)
Lalu singkat cerita ustadz tersebut juga membahas tentang khusuk katanya ”kalau ada yang memanggil-manggil ketika shalat, abaikan karena itu suara setan. Kalau tiba-tiba anak kita mendadak menangis ketika kita shalat, biarkan karena setan sednag mencubit anak kiat sehingga dia menangis, toh anak kita juga tidak akan mati karena menangis” tapi dak tega juga tadz -__-a. Jadi intinya shalat khusuk itu bisa tetap fokus sekalipun banyak gangguan di sekiling kita.

Tak sengaja saya mengigat-ingat sebuah tulisan yang menjadi lembaran taushiyah yang kami bagikan, ketika di LDF dulu. Berikut isi artikelnya
Shalat tapi Lupa Makna

"Seburuk-buruk pencuri adalah orang yang mencuri akan shalatnya. Mendengar perkataan ini, orang banyak bertanya: Ya Rasulullah, bagaimana orang mencuri shalatnya itu? Berkata Rasulullah: Yaitu tidak ia sempurnakan ruku'nya dan sujudnya." (HR Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Qatadah)
Sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Muwaththa' Imam Malik, dalam suatu kesempatan Rasulullah bersabda, "Apa yang kalian lihat tentang peminum, pencuri dan pezina?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Kemudian beliau bersabda, "Mereka adalah orang-orang yang keji dan berdosa." Selanjutnya beliau menyambung perkataannya, "Seburuk-buruk pencuri adalah mereka yang mencuri shalatanya," dan seterusnya....
Dalam ilmu fiqih, shalat bagi kaum muslimin adalah fardhu 'ain. Artinya, setiap individu muslim wajib mendirikannya. Sebagai konsekuensinya, jika dikerjakan akan mendatangkan pahala, jika ditinggalkan akan terkenai sanksi dosa.
Kewajiban setiap muslim adalah mendirikan shalat, bukan sekadar mengerjakan. Ada beberapa perbedaan prinsip antara menegakkan dan mengerjakan. Pertama, mengerjakan itu berkonotasi rutinitas, sedangkan menegakkan berarti ada sesuatu yang dibangun dari awal atau ada yang bengkok kemudian diluruskan, yang tertidur dibangunkan. Atau lebih tepatnya, yang pasif diaktifkan.
Kedua, mengerjakan lebih menekankan pada aspek jasmani, sedangkan mendirikan, selain jasmani juga ruhani. Karena shalat tidak sekadar gerak badan, tapi gabungan antara gerak badan, lisan, dan hati secara bersamaan.Mengerjakan tidak dituntut kesempurnaan pelaksanaannya, sedangkan menegakkan memberi tekanan pada penyempurnaan syarat, rukun, dan kehadiran hati di dalamnya. Dengan demikian, mengerjakan shalat jauh lebih mudah daripada mendirikannya. Siapa saja bisa mengerjakan shalat, tapi tidak semua bisa mendirikannya. Sedangkan perintah Allah kepada kita adalah menegakkan atau mendirikan, bukan mengerjakan. Semua perintah shalat dalam al-Qur'an selalu menggunakan kata aqiimish-shalah, sebagaimana firman-Nya:
 "Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, akanmendapatkan pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan." (QS al-Baqarah: 110)
 Untuk mendirikan shalat dibutuhkan sikap sempurna, meliputi segala kaifiyatush-shalah, baik syarat, rukun maupun wajibnya. Tak kalah pentingnya adalah menghadirkan hati pada setiap gerakan shalat, disesuaikan dengan ucapan lafadz-lafadz doa yang dibaca. Di sini banyak orang yang kemudian lalai dalam shalatnya. Ia mengerjakan shalat, tapi lupa untuk menyempurnakannya. Dalam shalat mereka juga mengucapkan berbagai doa, tapi lupa menghayati maknanya. Antara yang diucapkan dan gerak hatinya berbeda, demikian juga gerak pikirannya. Ketika seseorang melalaikan hal di atas, berarti ia telah mengurangi takaran kewajibannya. Mengurani takaran itu sama halnya dengan mencuri.

Alangkah seringnya kita mencuri shalat. 

Salah satu kegiatan yang palng sering dicuri adalah thuma'ninah, yaitu diam sejenak pada saat ruku' dan sujud. Pada saat ini tidak sedikit di antara kita justru terburu-buru. Baru sejenak tangan menempel di lutut ketika ruku', sudah bangkit lagi. Baru beberapa detik dahi menempel di lantai ketika sujud, sudah diangkat kembali. Bahkan banyak di antara kita yang dahinya belum sempat menyentuh lantai secara utuh sudah diangkat kembali.
Andaikata kita mengetahui fadhilah ruku' dan sujud, tentu kita akan lebih memperlambatnya. Saat ruku' dan sujud itulah hubungan seorang hamba dengan Tuhannya menjadi sangat dekat. Itulah saat yang paling tepat bagi kita untuk mengakrabkan diri kepada Allah. Kita berkenalan, berdialog, bermuwajahah. Pada saat ini seolah-olah kita sedang melihat Allah, jika tidak demikian, kita yakini saja bahwa Allah sedang melihat kita.
Duhai, sungguh merugi orang yang melalaikan shalatnya. Ia tidak memperoleh apa-apa, kecuali kelelahan saja. Itupun masih harus menerima balasan dari Allah, berupa celaan yang menghinakan, sebagaimana firman-Nya:
 "Celakalah bagi orang yang shalat, yaitu yang lalai dalam shalatnya." (QS al-Maa'un: 5)
 By : BWPI FP UNSRI

 Ah sudah benarkah Shalat kita? Sudah khusukkah?
 Upaya untuk mempertajam kecerdasan ruhaniah tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan yang menderu untuk melaksanakan shalat. Hal ini karena di dalam shalat tersebut terdapat suasana yang mampu meningkatkan kualtas jiwa yang sangat tinggi, mampu mencegah perbuatan mungkar. Sayangnya, shalat sering dipandnag hanya dalam bentuk formal ritual, sebuah gerakan-gerakan fisik yang bterkait erat dengan tatanan fiqh. Tanpa da muatan yang mendalam atau keinginan untuk memahami simbol-simbol atau hakikat yang terkandung di dalamnya. Sesungguhnya shalat yang kita dirikan itu pada hakikatnya merupakan samudra mutiara yang mencerdaskan ruhani. Shalat menunjukkan sikap bathiniah untuk mendapatkan kekuatan, kepercayaan diri, serta keberanian untuk tegas berdiri menapaki kehidupan dunia nyata melalui perilaku yang jelas, terarah, dan memberikan engaruh pada lingkungan (Tasmara, 2001).
“Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang yang lalai dalam shalatnya (menunda-nunda sehingga keluar dari waktunya).” (Al-Ma’un : 4-5)
”Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’..” (Al Isra:109; Maryam:58)
Dan sesungguhnya kitalh yang sangat mmebutuhkan shalat.  Bukan hanya sekedar rutinitas, tapi untuk pengekspresain cinta yang mendalam. Sesungguhnya shalatku, ibdahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah..

Hati yang legam
Seperti kubangan tak dihiraukan
Ringkih mengharap sentuhan
Dengan kain iman yang kumal
Ku merintih
Ku berharap
Terampunkan segala dosa
Menampakkan lagi cermin diri..
Rabbi, dosa ini menggunung tinggi..
tapi rahmatmu tak sesentipun alfa dalam jalan kehidupanku
Ampuni aku..Ya Rabb..



Inspiring:
Kecerdasan Rukhiya; KH Toto Tasmara, 2001
Ustadz Karim dalam Peringatan Isra Mi'raj Masjid Nurul Persada
Damai Indonesiaku
Alam Semesta Bertawaf; Dyayadi, MT

Copas from myNewBlog: http://oktavianamj.wordpress.com/2012/06/18/allah-tidak-butuh-shalat-kita/


Rabu, 04 April 2012

Di Sejumput Awan Berkisah


Tiba-tiba saja inget situasi sore kemarin, bagaimana langit bercerita langsung tentang “tiga kisah” yang berbeda. Dibagian timur nampak pelangi yang terpotong oleh awan kelabu, lalu ditengah-tengah nampak semburat awan yang cerah tanpa tertutup mendung, dan dibagian barat senja yang merona akibat matahari yang menenggelamkan wujudnya, menunjukkan betapa Allah Maha Menguasai Alam ini. Hanya ingin sedikit berbagi dan memaknai hidup ini dari cerita ketiga langit tersebut.

Setiap orang tentu pernah merasakan sesuatu yang disebut awal kehidupan bukan? Ya sedikit disamakan dengan proses kita dalam menjalani hidup ini, dengan cerita langit di atas. Pada mulanya kita dilahirkan seperti sejumput awan yang kosong, putih lagi bersih. Tak ada yang bisa menyebut kita ”kotor” karena saat itu, kita memanglah ”bersih” (red-hati). Walau kita bukan terlahir dalam keluarga islam sekalipun. Itulah awal kehidupan yang disebut bayi hingga masa kanak-kanak. Manusia pada awalnya dilahirkan sama, yaitu dalam keadaan bersih. Pun diciptakan dari hal yang sama.

Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (Shad : 71)

“Saya lebih baik daripada dia, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raaf:12)

“Turunlah kamu dari Surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al-A’raaf:13)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk (lain). Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (Al Mukminun : 12-14)
Wahai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka ketahuilah sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi … .” (Al Hajj : 5)

Ya beginilah proses penciptaan manusia, tak ada yang berbeda kita tercipta dari hal yang sama. #thingking!! Pantaskah kita Ujub, Sombong, ataupun Takabur??

“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah: 32)

Kita tercipta sama, hanya saja kita dibentuk di lingkungan dan cara yang mungkin berbeda-beda. Saat itulah kita mulai mengalami berbagai fase perubahan, sedikit demi sedikit manusia mengalami “peningkatan” dalam hidupnya. Setelah bayi, kanak-kanak, sampailah manusia dalam kondisi Baligh atau dewasa. Mungkin tidak semua manusia juga sempat mengalami hal ini, ada beberapa yang telah diambil kembali oleh Allah sebelum masa pencapaian ini. Untuk masa Baligh, saya tidak akan membahas secara mendetail. Yang jelas di masa ini, kita sudah harus mulai mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan sendiri. Berbeda dengan masa sebelum ini. Karena Baligh juga diartikan “berakal”, artinya kita sudah mulai bisa membedakan yang benar dan yang salah, namun lagi-lagi untuk mencapai titik itu kondisi lingkunganlah yang akan menempa kelambanan atau kesigapan seseorang dalam memahami dan membedakan sesuatu. Ya lingkungan.
Dimulai dari tahap baligh dan seterusnya, di sini lah kita mengalami berbagai proses kehidupan lagi. Dimana kita ditempa menjadi pribadi-pribadi yang berbeda, pribadi yang mulai berpikir masa depan. Pribadi yang mulai memiliki ambisi dan keinginan, atau bahkan mulai dari sinilah kita sadari bahwasanya kita dalah “pemimpin” bagi diri kita sendiri. Kita adalah khalifah di bumi ini..

“Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Rabb berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30)


Bukan hanya itu, bahkan ada sebagian dari kita yang pada tahap ini menjadi pemimpin bagi orang lain, baik dalam kelompok-kelompok kecil maupun kelompok besar. Kita mulai belajar memahami dan menyelami berbagai karakter dari ornag-orang di sekitar kita. Tak banyak orang yang mau menjadi pemimpin bagi orang lain. Namun banyak pula yang menjadi pemimpin untuk “ambisi” pribadinya.
Tetapi ada orang-orang yang membawa tujuannya untuk Allah, murni hanya untukNya. Mereka inilah yang disebut-sebut sebagai pengemban dakwah.
Pada proses ini pulalah, terkadang untuk sebagian orang mengalami siklus yang disebut “pemahaman”. Ada kalanya Allah memberi teguran kepadanya berupa kesusahan dan kesedihan, bahkan terkadang melalui kesenangan. Tak semua juga orang paham membedakan akan hal ini. Dalam tahap inilah, ada sebagian orang yang terus menerus merasa dirundung “mendung” seperti kisah langit di atas, ada pula yang paham bahwasanya setelah “mendung” tersebut aka nada pelangi yang muncul walaupun dengan kondisi “terpotong” tak sempurna membulatnya. Namun ada pula sebagian orang yang menjadikan hari-harinya merasa cerah karena ia adalah orang yang pandai bersykur. Setiap masalah yang ia hadapi, ia anggap bagian dari Kasih sayang Allah padanya, namun sangat sulit menemukan orang yang seperti ini.

Sesungguhnya Allah menetapkan takdir-takdir makhluknya lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit-langit dan bumi.” (HR. Muslim 2653, shahih)

Dan setelah segala proses itu, kita berada pada sesi akhir dari perjalanan hidup ini. Sama seperti matahari di saat senja, yang menenggelamkan dirinya. Ya kita semua akan mengalami fase ”akhir” dari kehidupan ini. Bayangkan sodara-sodara!! Matahari yang segitu gagahnya saja memiliki fase akhir, apalagi kita. Bahkan semua telat tercatat mantap dalam Lauful MahfudzNya.. ya tercatat Mantap! Kapan Malaikat Sakaratul maut itu akan menjemput kita. Terbayangkah????

Dengan amalan yang tak seberapa, pun belum tentu ikhlas itu.. kita akan berakhir. Masayaallah.. kapankah itu duhai Rabbi?? Sudah pantaskah merindui saat perjumpaan denganMU, sedang diri sehina ini??

Pada awalnya, manusia tercipta dari tanah. Dan akan kembali ke tanah yaitu alam kubur.  


"Kematian, yang dikenal sebagai berpisahnya ruh dari badan, merupakan sebab yang mengantar manusia menuju kenikmatan abadi. Kematian adalah perpindahan dari satu negeri ke negeri yang lain, sebagaimana dirtwayatkan bahwa, "Sesungguhnya kalian diciptakan untuk hidup abadi, tetapi kalian harus berpindah dan satu negen ke negen (yang lain) sehingga kalian menetap di satu tempat." (Abdul Karim AL-Khatib, I:217)

 “Iblis berkata, “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.” Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,”(QS. Al -A’raaf:14-16)
 
 
Begitulah kehidupan sodara-sodara. Ada awal dan juga akhir, tentu setiap kita berharap dari sejumput awan yang putih dalm kehidupan kita. kita punya "pelangi" sendiri di tengah-tengah kehidupan kita nanti. dan pada akhirnya, kita akan mengakhiri kehidupan kita dengan keindahan. Seindah senja sore kemarin. Ya kita punya awan masing-masing, langit masing-masing, pun guratan kisah masing-masing "di sana". Siapa yang tahu awalnya, siapa pula yang tahu akhirnya.. Hanya Dia.. Lalu sudah seberapakah kita menghargai hidup ini dengan syukur?? ^____^

Rabu, 28 Maret 2012

Ini Blognya Anak Pertanaian TERANCAM SARJANA #eaaa


*Celingakcelinguk*
Katakan “saya anak pertanian”. Kenapa isi blognya melankolis semua neng? ”suka-suka” #eh.
Ingat! Ini Blog bukan buat curcol, ”oh ya?lantas”.
Boleh sich, Cuma jangan berlebihan. Corcol blak2annya ke Allah aja. ”#ups.. bener juga yah” #glek. Baru nyadar...
Tapi kali ini mau curcol plus kasih ..sedikit hikmah ”boleh2?”.. okray..

tiktoktiktok...

Haha kinclong banget hari, pake baju ”kebangsaan” yang selalu dinanti2kan tapi juga buat diri ini deg2 serr... ”hitam putih”. Udah persis kayak sales aja dah. Tapi ini udah jadi ”tradisi” atau ”peraturan” yang saklak.
Saya diam, beku rasanya saat itu.. ingin mundur sajalah. Saya belum siap, tapi saya baru benar-benar menyadarinya saat detik-detik engap itu telah tepat menyergap saya. Haa..du..du..du.. syalallala.. #berceloteh dalam hati, yang terdalam.
Bolak-balik makalah yang sudah diwanti-wanti dari jauh-jauh hari. Baru sadar, benar-benar baru sadar. Sungguh makalah itu ”hancur, amburadul” #glek. Lantas gimana ini?? Saat dosen pembimbing dan penelaah sudah tepat berada di depan mata. Saya benar2 gugup. Rasanya kehilngan semua yang harus saya katakan. Idealisme-idealisme yang sudah saya wanti-wanti untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan nanti, semuanya.. #jlebbb.. hilang tak membekas. Saya merasa berada di alam lain. Ya Rabb.. ada apa ini.

*HIKMAH*
Itulah yang bisa saya petik, saya harus benar-benar lebih jeli dan teliti lagi, gesit dan sigap dalam memanfaatkan setiap kesempatan dan waktu yang ada. Nyatanya? Terlalu banyak hari yang saya sia-siakan beberapa hari sebelum saya menghadapi salah satu peristiwa sakral ini (tidak terllalu sih, tapi lumayan...mmm).
Dan ketika ini harus terjadi lebih cepat dari rencana, saya benar-benar harus siap menanggung konsekuensinya. Jujur, saya belum siap. Mungkin tak ada dari teman-teman yang mengajukan pertanyaan khususnya yang tahu. Sungguh saya belum siap. Terimakasih sekali untuk kritiknya, saya tampung. Cuma down syndrom itu hilir mudik dipikiran saya begitu NYATA. Menjelimet untuk menjelaskan apa yang tidak bisa kalian baca. Apa yang ada dalam pikiran akut saya.

*HIKMAH*
Allah.. lembut menyapa saya kala itu. Saat setelahnya, tangisan menjadi bagian dari hati yang melunak, saya terlalu SOMBONG akhir-akhir ini. SOMBONG untuk tidak mendekatkan dan berpasrah diri padaNYA. SOMBONG dengan Qiyamul Lail yang benar-benar tertinggal begitu lama. *SejumputRindu*

*HIKMAH*
Mental kuat gak menjamin semua berjalan lancar mulus kayak di trotoar, ada titik tertentu kita memang butuh ”seseorang” sebelum hari H. Ada saat dimana kita butuh banyak bertanya akan sesuatu yang baru kita hadapi. Ada hal yang harus kita pelajari, bukan hanya secara teori. Tetapi juga lewat ”Hati”. Kekuatan itu bisa saja dari orang-orang terdekat kita, sahabat misalnya.

*HIKMAH*
kau akan tahu, siapa yang benar-benar peduli padamu.. *syukron sob* :*

*HIKMAH*
Saya tidak kalah, karena kesalahanlah yang akan membuat saya menjadi ”pemenang”. Ketika semua orang berpikir sederhana dengan apa yang mereka lakukan, saya akan berpikir ”Lebih” untuk ini. Karena memang, ini adalah ”hal luar biasa”. :))

*HIKMAH*
Semoga esok, saya akan tersenyum bangga bersama orang-orang tercinta, bahkan orang-orang yang terlibat dalam hal ini. Bahwasanya, semua tidak semudah pun tak sesulit itu. Menjalani segala prosesnya dengan keterbatasan adalah bagian dari ”penghargaan” kita terhadap diri kita sendiri. Jangan menyesali apapun, syukuri, lalu jalani semampu kita. Karena Kuasa Allah itu, tiada yang tahu kapan akan didatangkanNya. Yang terpenting adalah, ketika apa yang kita lakukan termasuk segala prosesnya ini bisa bermanfaat di dunia wal akhirat. *JOSSS*

*HIKMAH*
Banyak belajar tidak menunjukkan kita orang yang bodoh, justru semakin banyak belajar itulah salah satu kriteria orang yang cerdas. Ilmu yang dimiliki serasa gak pernah cukup, selalu ingin tahu untuk kemudian diaplikasikan di dibagi-bagikan ilmunya pada orang lain. :D

 

Minggu, 25 Maret 2012

..HUJAN..


Hujan
Kau berderai
Seperti bernyanyi dalam badai

Awan, angin,
Berkejaran dan saling berarakan.

Hujan.
Kala itu jatuhmu menyimpan peluh
Tapi tak pernah kau ceritakan

Hanya tersirat dalam sebentuk mendung
Hanya terdengar dari birama mu yang kacau

Hujan..
Andai waktu dapat kembali
Endingnya tak akan seperti ini

Aku biarkan aliranmu
Lembut menyentuh sarafku
Aku biarkan biramamu
Hanyut mendendang di telingaku

Sungguh, kala itu aku terdiam
Saat kau berkisah dalam memori otakku
Di sebagian ini dan ini saja
Tepat menyerang alam bawah sadarku

Hujan,
Malam ini pun kau jatuh dengan ribuan kisah
Tik tik tik.
Aku masih menunggu kau berkisah lagi,,
Dan lagi..

-Jum'at Malam-

Sabtu, 05 November 2011

LANGIT KU

Langit ku

Di balik jendela maya ini, ingin ku buka ruang di bilik sunyi yang terlalu lama  ku sembunyikan.
Ketika menatap langitku sore itu, ada sekilat senja yang bewarna indah merona. Membiaskan di setiap kisi2 hampaku.
Langitku, yang ku rindu. Meski sesak udara yang ku rasakan kini. Akan tetap ku ceritakan titahnya jejak2 hampaku padamu. Meski atmosfernya telah tercemari oleh laku burukku, akan ku jabarkan bagaimana kata mengusung indah gugusannya, menjadi kalimat berbait sederhana. Allah, aku tahu.. siapalah aku. Kini bermimpipun kenapa berat rasanya. Ketika yang memotivasiku seolah tiada lagi. Allah, entah.. bagaimana ku lukiskan rindu pada langitku kini. Ingin bertemu, tapi dosa yang meninggi melebihi bukit2 dan gunung2 kini membatasi. Allah, bagaimana surat rindu pada langitku ini bisa sampai paadanya. Bahwa aku ingin menjumpainya di sejumput jingga yang berwarna. Bahwa aku ingin berlari kecil sambil menggapai lembutnya awan, bukan menggapai “kosong” lagi.
Allah, bagaimana cara ku menggambarkan rindu pada langitku kini. Sedang menatapnya dari kejauhan hanya akan membuatku hujan.
Allah, bila dibalik sana.. ia pun rindu padaku. Maka biarlah aku di sini berbaik diri dulu.
Semoga… :))

Jumat, 20 Mei 2011

Belajarlah dari hujan; ternyata pernah nulis ini :)

belajarlah dari hujan, coba kau perhatikan siklusnya.. ia bermuara dari awan yang menghitam. Tak ada yang menyukai hal itu, karena mendung itu dianggap kelam. tapi. lihatlahh...  ia tetap rela menjatuhkan butiran2 dari atas awan itu. padahal siapa yang menganggapnya, siapa yang meperdulikannya..
namun, tahukah kau..
dibalik hujan itu..
ada sebuah keteduhan..
ada sebuah kesegaran, untuk kuncup2 daun yang akan bermekaran..
untuk tunas2 baru yang akan bermunculan..
coba kau amati,
bagimana hujan mampu memberi kesegaran..
Memberikan  kehidupan!!

sampai-sampai ALLAH berfirman

“Dia yang menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanaman-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam-macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Alloh) bagi kaum yang memikirkannya.” (QS. An Nahl : 11)

“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu biji-bijian yang banyak, dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai dan kebun-kebun anggur dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya diwaktu pohonnya berbuah dan (perharikan pula) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Alloh) bagi orang-orang yang beriman.” ( Al An’am : 99) .


ada unsur apa gerangan yang terdapat dalam air yang jatuh ituu???

coba kau amati, betapa hujan itu ikhlas menjatuhkan RahmatNya untuk Hamba2Nya yang senantiasa bersyukur..
padahal ia sudah berada di tempat yang Tinggi, lalu kenapa ia rela dijatuhkan ke Bumi??
karena...
ia ikhlas, ikhlas jatuh untuk bermanfaat setelahnya..
ia ikhlas untuk menjadi muara air yang baru..

dengarkanlah melodi hujan yang jatuh itu,
maka dari gemerciknya..
kau akan tau..
betapa bahagianya ia, JATUh..
untuk bermanfaat bagi yang lainnya..

meski siklusnya..terkadang tak disukai, tapi ia bangga menjadi RahmatNya untuk hamba2Nya..

Lalu kenapa, kita tidak coba untuk ikhlas..
meski yang terjadi adalah.. kita harus terjatuh berkali-kali..
harus menikmati setiap resah yang yang merasai hatii..

yakinlah, akan ada tunas dan kuncup2 baru yang muncul..saat kita mampu memberi..
meski terkadang seolah tak berarti dihadapan manusia, tapi yakinlah.. Allah kan mencatatnya..
mencatat amalan2 itu..meski kecil wujudnya.. asalkan semua karenaNYA..

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari; kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari bumi, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke langit. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Alloh Maha Melihat apa yang kalian kerjakan”. (QS. al-Hadid : 4)

"Dari Abu Dzar ia berkata, Rasulullah s.a.w berkata:"Sungguh beruntung orang yang mengikhlaskan hatinya untuk beriman, menjadikan hatinya sehat, lisannya benar, jiwanya tenang, akhlaknya lurus, telinganya mau mendengar, dan matanya mau melihat. Kalau telinga mau mendengar maka mata mengakui apa yang dipahami oleh hati. Sungguh beruntung orang yang menjadikan hatinya dapat memahami."(HR Ahmad)

"Dan di antara manusia ada orang yang menjual dirinya karena mengharap ridha Allah."
QS Al Baqarah ayat 207

Belajar dari hujan, maka akan kau lihat sbentuk rindu diruang hatimu..
rindu akan RahmatNya..
Rindu akan semua melodi2 yang Dia mainkan dalam hidupmu..
ada hujan dibalik mendung,
namun setelah itu.. ada kesegaran, kehidupan, dan bahkan... SEBUAH PELANGI...yang keindahannya tak kan mampu kau lukiskan..
Percayalah, ALLAH akan memberikan sebuah kebahagiaan dibalik tangismu.. jika kau ikhlas menerimanya.
:DD

9 januari 2011

Air, Embun, Bintang, Langit, Pelangi

Menghargai hidup, itu artinya menghargai apa2 yang Allah berikan kepada kita. Kesusahan, kesenangan..
adalah bagian agar hidup menjadi lebih hidup.
seperti air yang bermanfaat..
seperti embun yang bening menggeliat
seperti bintang yang rela menunggu jutaan tahun untuk memancaarkan sinaarnya..
seperti langit yang biru berkisah..
seperti pelangi yang tak sempurna bulatnya..

Jangan sekedar diLihat, tapi juga di baca yo..!

Jangan sekedar diLihat, tapi juga di baca yo..!
Semoga bermanfaat.

Label

#dakwah (3) #Labirin (6) #profesi (2) aku-kau (2) BEMERS (1) Cerpen (1) Cinta (12) Hikmah (12) Jejak juang.. (19) Jurusan (2) Melingkar (1) Mimpi (2) pilihan-pilihan (1) Pojok Rumpi.. (10) Setitik CINTA (16) Siklus (7) Ukhuwah (2)
Powered By Blogger