Tampilkan postingan dengan label #Labirin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Labirin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Juli 2012

*MoMentum*

Hal yang paling buat jegger dalam hidup ini adalah saat melalui semuanya sendiri, tanpa mama-papa yang memanja, tapa kakak-teteh yang memotivasi, atau tanpa suara mbah yang parau renta namun buat nyess. Tapi ternyata, ada saja yang selalu setia membersamai, wah apa itu ta? Dua malaikat dikanan-kiri, yang sigap mencatat secara fisikly maupun yang tersembunyi di dalam hati. Namun yang paling special adalah saat yang membersamai kita adalah Allah. Allah yang membuat kita bisa mengaburkan air mata, walaupun saat itu kita rasanya sudah tak bisa menahan tumpahan air mata. Allah yang selalu berbisik perlahan, bahwasanya setiap kejadian adalah hikmah sebuah kedekatan. Dekat bukan sembarang dekat, tapi dekatnya hanya sehasta.
Betapa beruntungnya kita punya Tuhan Allah, yang maha Rahman dan Rahim.. cobalah bayangkan kalo disetiap tarikan dan hembusan nafas kita itu tidak gratis. Berapa banyak bayaran yang harus kita berikan disetiap persekian detik. Hufftt hahh.. *Izin narik nafas dulu dah* teong ups kebalik *toeng

Dekat yang sehasta, saat kita pernah jemu berkelu pada bukan selain Dia. Siapa lagi yang tak pernah bosan mendengarkan, siapa lagi yang selalu setia menunggui kita, kitanya saja yang terkadang keterlaluan, tak pernah sadar *Yangbutuh itu siapa ha?* Tapi sekalipun kita telah jauh, Allah tak pernah alfa memberikan Rahman dan RahimNya kepada kita. Oalahh.. kenapa kita menjadi manusia selalu lupa akan syukur. Apalagi yang kurang di dalam kehidupan ini? Semua lengkap, anggota tubuh lengkap, garis keluarga lengkap, atau secara kebutuhan kitapun dicukupi. Ya cukup, batasan rasa cukup ini yang terkadang tidak kita miliki. Sehingga kita meminta lebih dan lebih. Tak masalah bagiNya, karena Dia juga Maha Kaya Raya. Apa yang tidak Dia punya *bulan, Planet, galaksi,*bintang? *Blushingggg*. Tapi lagi-lagi esensi kita dalam meminta, atau prioritasnya terkadang tak sesuai dengan yang kita butuhkan, kita bukan butuh hanya sekedar menginginkan. Apalagi kita meminta hanya membawa tangan yang menengadah, sedang setelah dapat, kita lupa azas hak-kewajiban. Kita hanya menuntut hak, tanpa mau melakukan kewajiban, kalau kewajiban saja tidak, bagaimana dengan yang sifatnya sunah.

Sudah lupa kewajiban, kita lupa lagi untuk bersyukur dengan memuji Kekasih kita ini. Hanya sekedar melafazkan rasa syukur pun kita lalai, bagaimana kalo Allah pergi dari kita. Allah memberikan saja apa yang kita minta, tanpa mau-tau, atau lebih tepatnya tanpa peduli apakah hal yang kita minta dibutuhkan atau tidak untuk kita. Bukankah Allah memberi sesuatu sesuai dengan kemampuan hambaNya. Orang kaya raya, yang tak siap kaya raya mungkin akan bahagia-bahagia saja mendapatkan kekayaaanya yang –cumatitipan. Tapi sayangnya esensi dari kekayaan yang dia miliki akan berbeda.

Kita terkadang bukan lupa atas anugerah yang diberikan Allah, tapi kita terlalu banyak main hitung-hitungan. Hitung-hitungan seorang yang Cuma tamatan SMA atau tamatan strata satu,
Mana bisa disamakan dengan hitung-hitungan untuk anugerah dari Allah yang berlimpah. Ibaratnya kita tuliskan nikmat-nikmat itu di atas dedaunan di bumi, maka lautpun tak akan cukup tuk dijadikan tintanya.

Segala puji bagi Allah yg telah memberi kepada kita kecukupan & kepuasan yg tidak terabaikan & tidak tertolak (HR. Bukhari).


Aku renta dalam gelimang dosa
Aku jatuh bersimpuh noda
Duhai rabbi
Aku mengharap syurga?
Sedang amalku tak seberapa
Aku merinduMU
Sedang cintaku tidak bekerja

Sudahkah kita bersyukur hari ini???

Rabu, 20 Juni 2012

Ini Tentang ia..

Ini tentang ia…
Ia yang tiba-tiba saja menyita waktuku
Ia yang tiba-tiba saja merubah atmosfer kehidupanku
Ini cerita tentangnya yang tiba-tiba saja aku suka
Ia yang membuatku tiba-tiba maniak dengan kata
Ia yang tiba-tiba berhamburan dalam figura nyata
Ia yang membuatku menangis atau kemudian tertawa
Ini tentang ia
Yang selalu punya pola dan tekstur yang berbeda
Ini tentang ia yang membuat duka menjadi canda
Membuat rancu menjadi candu
Membuat kata tumpah dalam orbitku
Aku tiba-tiba saja sering memikirkannya
Mmebiarkannya semakin dalam dan lebih dalam menyelami kehidupanku
Dan akupun suka lebih dalam menyelaminya
Ia timbul dan tenggelam lewat khusuk yang tak tertuang
Ia abstrak yang tak tergambarkan
Tapi ia sungguh nyata
Ini masih tentang ia
Yang berdenyut malu dalam nada-nada kehidupanku
Ini tentang ia yang khusus untukku
Andaikan ia mampu ku uraikan seperti kata dalam kalimat
Mungkin jadinya adalah partikel kata yang tarik menarik
Hari ini ia tiba-tiba saja mendarat dalam landasan ini
Tidak menggangu meski ia kadang hadir bersama bising
Aku selalu ingin bercerita tentangnya
Seperti ia yang natusias meloncat-loncat dalam ceritaku
Dan hari ini masih tentang ia..

Jumat, 15 Juni 2012

Karena Skripsi Gak Cuma Masalah Nyali


Tulisan ini dampak dari otak yang kusut mengkerut plus menclak-menclok karena dilanda Tugas Akhir yang gak berakhir-akhir. Hahh..? Tidak untuk diaminkan ya..
Bahkan hampir saja tanduk keluar dari kepala kalau kesabaran mulai terkikis akibat skripsi manis., *towew 

Mungkin setiap yang lagi nyekrip sebenarnya punya nyali dan mental yang besar seiring seimbang dengan setiap bongkahan kata yang ia tuliskan, tapi ternyata segala prosesi penyelesaiannya inilah yang terkadang buat keki. Alias mati gaya. Gak semua dan gak mesti begini sich, tapi inilah realita yang sering dialami.

Segala hal memang harus dimulai dengan langkah pertama, tak jarang ada bebapa orang yang sangat sulit untuk memulai langkah pertama ini. Bukan masalah nyali, hanya kemauan yang entah kesumbat dimana. Tapi tak jarang juga ada mahasiswa yang sebenarnya sangat membara-bara ketika memulai langkah awalnya, tapi eh tapi faktor x yang terkadang tak mampu menampung semangat yang terlalu menyala-nyala tadi. 

Jadi salah siapa dong?

Mau menyalahkan dosen pembimbing yang sulit ditemui? Atau dosen pembimbing yang jamnya terlalu tinggi? Atau menyalahkan keadaan? Kesian banget mah keadaan disalahkan terus-terusan. Atau sebenarnya salah diri sendiri yang kurang cekatan saat mengerjakannya? |gak koq, udah paling gesit saat mengerjakan skripsinya, percaya dah|..
Bukan Salah skripsi atau dosen pembimbing, anda juga tidak bisa disalahkan serta merta. Tidak ada yang salah ketika kita sudah mengupayakan semuanya, hanya saja beberapa hal yang mesti kita tahu. Bahwasanya Skripsi Bukan Cuma sekedar untuk Gelar. Tul gak ya?? Tergantung orientasi dari penelitinya sih, kalo diniatkan begitu ya hasilnya Cuma segitu. Tapi saya katakan berulang kali, tugas akhir ini kita selesaikan bukan Cuma untuk itu, untuk gelar di balik layar *ups salah, dibelakang nama maksudnya. 

Di saat kita berjam-jam menunggui dosen, ternyata ketika bertemu hanya beberapa detik. Semua yang akan dikatakan #jlebb hilang tak membekas, saking semangat atau gugup tu ya?? Atau setelah menunggu berjam-jam, eh dosennya baru confirm tidak bisa ditemui. Itu mah biasa dalam prosesi penyelesaian misi terakhir ini. Hanya orang-orang yang bernyali kuat yang mampu menyelesaikan misi besar ini sampe akhir. Tak jarang ada sebagian mahasiswa yang terlanjur uring-uringan, sehingga memilih untuk “putus” sama skripsinya beberapa minggu, setelah lewat minggu jadi beberapa bulan, setelah lewat bulan menjadi beberapa tahun. WOW.. Naudzubillah dah.. Tapi saat melalui segala keterpurukan dan kegelisahan yang tak berujung itulah, sebenarnya ada seruah hikmah yang tak banyak orang mengetahuinya. 

Skripsi itu bukan Cuma masalah mental, bukan hanya jadi ajang kita dekat-dekat dengan dosen pembimbing yang mungkin baru kita kenal saat nyekrip juga. Skripsi itu bukan pula masalah mau-tidak mau, semua orang ketika diberi kesempatan pasti berkemauan untuk menyelesaikannya, walau dengan tempo waktu yang berbeda-beda. Skripsi itu bukan Masalah!! Walaupun saat mau memulainya kita dianjurkan terlebih dahulu mencari masalah yang kemudian dirumuskan. Akan tetapi, skripsi atau Tugas akhir itu adalah sebuah proses penempaan diri. Bukan hanya penempaan kedekatan diri kita dengan dosen, dengan petani sampel, atau dengan orang-orang yang memiliki kait-mengait terhadap proses ini, tetapi juga penempaan diri kita untuk tetap dekat dengan Yang Maha Berilmu, Maha Mengetahui, Allah SWT. Peranan rukhiyah mau tidak mau akan sangat berpengaruh terhadap proses penempaan kita. Saat kita harus belajar kesabaran, saat kita harus belajaran keikhlasan, atau saat kita harus menahan isak yang membuat sesak, Kita butuh peranan rukhiyah yang berhubungan dengan kedekatan kita kepada Allah SWT. Kita butuh tangisan-tangisan menyendiri saat rasanya tak ada jalan lagi yang bisa kita tempuh dalam menyelesaikannya. Kita butuh penunjuk jalan untuk membimbing kita agar tidak selalu #random dalam mengerjakannya. Kita butuh Dia agar kita tetap menjaga etika keabsahan skripsi kita. Kita butuh Allah saat dunia rasanya telah sempit dan menghimpit. Kita butuh Allah saat ego mulai menjalar, padahal masukan di sana sini sangat membantu kita. Kita butuh Dia untuk menjadi orang yang selalu Legowo atas RencanaNya.

Ada orang yang bunuh diri karena skripsinya |dak nian itu|, ada yang mendadak stress akut, ada yang melarikan diri dari rumahnya karena orang tua yang terus-terusan menanyakan “kapan Wisuda?”, ada juga yang DO karena memang tak sanggup lagi melanjutkan skripsinya dari berbagai aspek. Jika kita tak punya Dia,  mungkin kita dengan mudah menyerah. Saat jenuh, saat peluh.. rasanya hanya keluh yang menumpukkan dendam tak berkesudahan. Saat amarah membara-bara mengalahkan semangat untuk melanjutkan prosesi ini, mungkin kita sudahlah lupa. Semua ini hanyalah bagian dari persinggahan dunia. Allah selalu punya cara dan rencana yang tersembunyi khusuk di dalam misteri kehidupan kita. Allah selalu punya tema yang tiba-tiba saja membuat hari kita bewarna.

Bersyukurlah, kita punya Allah, karena Dia tak kan pernah izin memberikan cara-cara uniknya untuk membuat kita paham, bahwa Dia selalu membersamai kita, asalkan kitapun membersamai Dia. ~Baru nyadar, lebih mudah menulis di blog dari pada di bab~


“Ternyata lebih menyakitkan menangis tanpa air mata, daripada menangis terisak..”
|aku tak ubahnya pengeran yang merindui bulannya|

Senin, 23 April 2012

Korban quisioner:
A: Maaf Pak, umur bapak berapa
Responden: 37 tahun
A: umur Istri pak?
Responden: 18 tahun, cak itu cak itu dasar be keliatan tuo, sebenarnyo masih mudi
A: yo lah pak percayo (dalam hati)
Umur anak Pak?
Responden: 10 tahun
A: oo.. #berpikirkeras. kayaknyo ada yg janggal ??

setelah jalan beberapa langkah, baru ngeh. masak iyo umur anak dan ibuny selisih segitu. jd ibuny umur 10 tahun sudah nikah?? #glekkk..
-_-

B: Maaf pak umurnya berapa
Responden: 20 tahun dek
B: wah tuaan saya setahun dong pak (dalam hati)
B: umur istri pak?
Responden: 25 tahun
B: oo.. umur anak pak?
Responden: 23 tahun
B: koq tuaan anak dari bapak ye?
Respnden: kan saya nikah sama janda dek
B: oo..iyo ye..
-_-

B: berceloteh dalam hati, tapi koq selisih anak sm ibunya cuma dua tahun ya?
#glekkk...

*Datayanganeh*

Kamis, 19 April 2012

Negri di Atas Air #EdisiLabirin2


Senin, 9 April 2012

Ada apa dengan huruf ”S” dan angka 9??
Aku suka, aku selalu suka huruf ”S” yang terukir indah dalam hidupku. Entah, apa misteri dibalik huruf ini. Yang jelas, aku selalu suka huruf ”S”... ;’)

Setelah tepat pukul 06.00 WIB semua sudah siap. Beres, aku akan segera pergi. Gumamku dalam hati. Lalu selang menit kemudian, kakak datang menjemput dengan mobil. Di dalam mobil sudah ada, teteh ipar, ibu mertua kk dan adik ipar ku. Aku duduk di jok mobil belakang dekat jendela. Kemudian setelah semua barang yang akan di bawa dimasukkan ke dalam mobil, mobil pun melaju, seiring dengan melajunya pikiran ku di gerbang menuju labirin ini. Mobil memutar arah ke arah pasar untuk menjemput teman yang akan pergi bersam-sam saya. Ya tempat penelitian kami sama, hanya sampel dan permasalahnnya berbeda. Setelah menjemput dia, mobilpun melaju lagi ke arah palembang. Ya perjalanan ku baru akan dimulai.
 ”aku hanya pergi tuk sementara, bukan tuk meninggalkanmu selamanya.. ku pasti kan kembali pada dirimu.. tapi..kau...jangan...”

Hari senin, sudah bisa ditebak bahwasanya kondisi jalanan palembang pasti akan macet dan sesak sekali apalagi pagi, dan tentunya hari kerja awal. Sekitar pukul 7.30 wib kami sudah berada diseputaran jalan palembang, akan tetapi belum di tempat yang akan dituju. Sebelum ke sana, disempatkan mampir dulu ke rumah sakit. Karena adik ipar ku dari kakak akan menjalankan operasi kecil. Setelah ke rumah sakit, mobil melaju lagi.. menuju tempat yang menjadi titik awal perjalanan yang menegangkan ini #eaaa.. :p
15 menit kemudian...

Sampailah di PTC, letak perusahaan itu soalnya tidak jauh dari salah satu mall terbesar di Palembang itu. Setelah sampai, mulailah mencari-cari teman ku yang sudah sampai duluan di sana. Iya, kami penelitian bertiga di tempat yang sama di Kecamatan Tulung selapan, untuk mendetilnya next seasion ya :p.
Setelah bertemu dengan teman ku itu, ternyata kepergian kami yang awalnya disepakati jam 08.00 ternyata jadi diundur menjadi jam 09.00 WIB. ya ya ya..angka 9 lagi, sesuatu sekali ;). Lalu aku, mama, dan teman-teman sepenelitian duduk diruang tunggu perusahaan, menunggu waktu pengunduran keberangkatan. Tak lama setelah duduk, bapak yang akan mengiring dan mengantar perjalanan kami datang. Bapak itu tiba-tiba saja langsuang bertanya ”siapa yang penelitian tentang sonor??” aku langsung mengacungkan tangan. Melihat ekspresi dari bapak itu, seolah-olah penelitian ku ini benar-benar butuh tenaga yang ekstra untuk menanyakan kepada responden (petani-red).  Ha iya, aku juga ngeh dan langsung nalar, penelitian ini memang sesuatu. Bagaimana tidak, soalnya penelitiannya tentang sesuatu yang sudah di larang sekarang oleh pemerintah. Tentu ketika aku bertanya perihal itu, mana ada yang mau mengaku telah melakukan hal yang dilarang itu. Gubrakk..dug..dug..dug.. coba sodara-sodara bayangkan, bagimana penelitian ini benar-benar membuat saya menggalau. Rasanya ada yang bergendang-gendang berisik dipikiran ini, untuk meninggalkan saja penelitian yang sesuatu’ sekali ini.. haa... segitunyakah? Tidak koq, tidak.. ”Aku Bisa!!” sergahku dalam hati yang mendalam sedalam-dalamnya.. ;’)

Awalnya perjalanan ini akan dimulai di BKB di tempuh dengan jalan air, tapi ternyata alur perjalanan. Perjalanan akan di tempuh lewat jalur darat terlebih dahulu, baru setelah itu akan ditempuh lewat jalan air. Tak sabar menanti [ukul 9.00 WIB.

Tiktoktiktok...


Selang menit kemudian...
Bapak dari perusahaan yang akan mengantarkan kami datang lagi, mengatakan untuk siap-siap berangkat. Sebelonnya ke ”belakang” dulu lah.. tas siap dimasukkan ke bagasi mobil. Wadoooh.. ternyata sumpek sekali melihat tas saya. Full >_<’..
Setelah selesai, saya berpamitan dengan mama dan kakak. Tanpa saya sadari, ternyata sudah dari WC tadi, mama saya tersayang menangis.. oh mama.. ku mohon jangan saat ini. Mama.. iya memang ibu yang sensitif dan lembut, bahkan sifat sensitifnya itu mengalir kuat dalam diriku ini. Tak sanggup bila harus jujur, berpisah dengan mama. Mama memang memanjakanku dan menyayangiku. Banget. Cuma satu hal yang terbayang, bagaimana ketika aku telah menikah nanti.. sayang mama so much.. :”)
Jadi benar-benar tak tega melihat mama menangis saat kepergianku.. aku akan pulang ma.. tenang.. ^^.


Bismillah, sudah di dalam mobil yang akan membawa kami ke tulung selapan. Perjalanan benar-benar baru dimulai. Menelusuri palembang, lalu melewati jakabaring. Lewat sini jadi keinget seagames kemarin. Bangunannya masih seperti kemarin, tapi tempat ini tidak serame ketika seagames kemaren tentunya. :D
Aku duduk tepat di sisi kiri mobil, dekat jendela, sehingga tak ada yang menghalangi pandanganku kecuali warna gelap kaca obil itu sendiri. Mobil terus melaju hingga sampai lah di rambutan. Daerah ini sering ku dengar, tapi aku tak pernah ke sini langsung. Semakin ke sana, semakin tempatnya sepi dan hanya terdiri dari pepohonan. Ada pepohonan karet yang memang sengaja ditanam yang merupakan kebun orang, tapi ada juga pepohonan yang memang tumbuh liar dengan sendirinya. Mobil makin melaju dengan kondisi jalan yang tak terlalu baik, semaki ke sana jalannya semakin memburuk. Ini ni contoh kerja pemerintah yang tak merata dalam perbaikan jalan. Wajar saja masyarakat kebanyakan memilih golput saat pemilu, karena mereka merasa juga memilih siappun. Toh tak akan merubah nasib mereka. Ok, akhirnya tibalah di jalan tanah merah yang agak lembek akibat sisa hujan semalam yang menggenang. Kanan kiri terdiri dari hutan yang bisa dibayangkan sangat jarang orang lewat di sana. Haa.. sungguh terlalu, kakak yang mengendarai mobil ini terus melaju dengan gaya mengemudinya yang membuat tubuh ini terguncang-guncang. Inget kakak. Seandainya kakak yang mengemudi, pasti tidak akan sekasar ini.. hah huuft.. satu hal yang tiba-tiba terlintas dalam pikiran ini. Bagaimana kalo mobil ini tiba-tiba macet, atau terpelosok, atau bannya pecah, atau habis bensin? Haa.. tidak tidak.. jangan sampai. Dengan kondisi di tengah hutan dan tanah merah yang becek itu. Gak kebayang kalo sampe hal itu terjadi. Jalan kaki aja dah ke tulung selapan.. #glekk.. >_<”/

3 jam kemudian...
Sampailah kami di kecamatan tulung selapan, tapi ini baru kecamatannya. Belum sampai ke tempat yang akan kami tuju. Di sini sudah termasuk maju dan ramai, persis seperti bayanganku. Kalo penelitiannya di sini saja, mugkin gak akan berasa penelitiannya, daerahnya mirip-mirip saja seperti layo :D. Setelah selesai makan siang dan shalat dzuhur, perjalanan kami lanjutkan. Perjalanan ini akan di tempuh lewat jalan air, lebih tapatnya menggunakan speedboat (bener dak tu tulisannyo :p). Melihat suasana di dermaga (bahaso kerennyo), saya sudah bisa menebak-nebak tempat yang akan kami tuju nanti seperti apa.. huuft haaa...menarik dan membuang nafas terdalam. Sebelum pergi bapak dari perusahaan mulai menakut-nakuti, kalo di daerah itu nanti seperti ini lah, seperti itulah.. huaaah.. biasa aja lah pak. Tau aja kalo muka-muka ini sudah memelas..>_<.

Naik speedboat, bremmm... kira2 seperti itulah bunyinya (versimakso). Perjalanan akan ditempuh lagi dalam waktu 3 jam. Ampun.. lama kalinya.. sudah ditafsir2, akan sempat untuk shalat ashar. Tapi ternyata, belum sampe setengah perjalanan.. Tiba-tiba speed yang kami naiki mati mesin. Allah.. ado-ado be ini.. -_-”

Tau nian ini speed kalo kami orang datangan, walaupun untuk naik speed sudah yang keduakalinya. Tapi sempat sesuatu juga saat mesin mati, karena speednya yang terbuka dan ukura kecil, kami juga tidak pakai savety :p. Kalo jatuh or tenggelam kan bisa berabe, secara dengan bangga aku katakan aku tidak bisa berenang, kalo nyelem sih bisa. Cuma gak timbul lagi.. >__<
Lama.. dan berulangkali si bapak sopir membenahi mesinnnya. Tak bisa-bisa,.. selang menit kemudian dia menelpon bapak lain untuk membantu membenahi speednya. Setelah bapaknya datang dan nimbrung, tetapsaja.. selang jam kemudia mesin tak jua benar. Dan berakhirlah kami dengan naik speed bapak kedua ini..

Perjalanan berlanjut, sambil melirik kanan kiri yang semuanya air dan ditumbuhi tanaman air seperti perumpung, pandan, nipah, nibung, dll (WOW, hebat.. aku hapal nama tanaman-tanaman itu.. gkgkgkkg). 


Aku cuma bisa mengikuti alir dan alur air serta speed ini, yang terpikir Cuma bagaimana orang-orang sini bisa hafal jalan-jalan di sini ya.. jalan air tepatnya, sedang tak ada ciri khusus yang bisa dijadikan pengingat disetiap jalan, Cuma tanaman. Salut salut.. ^_^
Selang jam..
Sampailah kami di desa Simpang Tiga Sakti, dan tara...

Beginilah kondisi desanya...



Lalau aku sebut ia..
Negri di atas air..
Sedikit berlebihan, mungkin.
Tapi begitulah kondisinya..

Dalam hati ku berucap,
Syukur padaMu Rabbi
Semoga nyaman berada di sini..

Rasanya tak pernah terbayangkan seluas ini Indonesia, seluas ini Sumatera Selatan, seluas ini bumiMu ya Rabb. Tak pernah terbayangkan ada kehidupan di temat ini. Tak pernah tergambarkan ada orang-orang yang hidupnya harus memilih tinggal disini untuk sebuah kehidupan.

Sesampai di sana, kami langsung istirahat untuk kemudian bersih-bersih. Lantas langsunglah kami menuju ke belakang, yang kami pikir tempat mandi. Tanpa berdosa, kami gunakan air yang ada di sana sodara-sodara. Itu merupakan air hujan yang semestinya dan sebenarnya digunakan untuk minum dan masak. Tapi apa yang kami lakukan.. kami memakainya untuk bersih2.. hahahha.. maap ya ibu yang baik, kami tidak tau :p. Dak tega buk, pake air kanal yang agak gelap itu.. -_-”

Hari pertama itu di malam harinya, ada pertemuan antara perusahaan dan masyarakat di sana. Si bapak dari perusahaan meminta kami yang jadi notulen, dan akulah yang terpilih.. ohya, salah satu teman ku ada yang tepar. Jadi tidak ikut dalam pertemuan ini.


Mengikuti... isi dari pembicaraan pertemuaan ini. Ada banyak ilmu yang memiliki daya tarik menarik dan tolak menolak dalam otak ini. Nalar anak pertanian saya jebol semua sampai ke akar-akarnya. Saya mengerti, saya memahami.. ingin cerita di sini, tapi takutnya ini rahasia dari perusahaan..hehe..
Yang jelas, dengan ikut pertemuan ini saya semakin mendalami bahwasanya hidup ini memang perjuangan, hidup ini dari dan untuk alam.. Hidup ini dari dan ke bumi..
hidup ini adalah bagian dari insting sebuah keinginan. Hidup ini Pertanian ;)
Gak ada pertanian, maka kau tak akan hidup :p. karena Pertanian itu mneghidupkan!!! Maka Berjayalah Pertanian...!!!
^__^

Aku tak ikut pertemuan itu sampai habis, karena tubuh ini butuh rehat untuk menjemput esok dengan semangat menggebu...,,
Berakhir dengan gelap dalam lelap..

Penelitian ku ini #sesuatu’ #EdisiLabirin2


Setelah melenyapkan segala gundah, dan mungkin juga aku cendrung menonjolkan egoku akhir-akhir ini. Akhirnya aku putuskan membiarkan semua itu dalam diam. Aku harus tetap pergi. Maaf-maaf saja jika ada yang terdzhalimi, sungguh aku tak bermaksud untuk itu. Namun rasanya diam adalah cara terbaik untuk kita berkomunikasi. Ia diam. Hanya itu pilihannya. Huuhhhaahhh.. sudah-sudah.. cukup cukup. Jangan bahas ini!!
Tapi semua nyantol di memori otak yang tak seberapa ini.. sungguh dahsyat mengganggunya.. -_-”


Minggu, 8 April 2012
Aku bersiap, bergegas menyusun semua perlengkapan yang harus ku bawa menuju #labirin ku. Sampe-sampe sesak sudah tas ini, haaahh.. sungguh terlalu. Emangnya mau berapa hari perginya neng? Gak tau.. jawab ku dalam hati. Galau sendiri jadinya. Bahkan tempat ku akan menginjakkan kakipun hanya ada dalam bias yang kias. Iya, aku bahkan tak pernah mampu menggambarkannya utuh dalam nyata. Sudah terlalu lama aku menanti detik-detik ini. Perjalanan hebat menuju #labirin ku. Perjalanan dari titik awal pencerahan penelitianku. Aku terdiam, lagi.
Setelah memasukkan semua yang harus ku bawa, rasa mantap itu terus menyerang. Mantap untuk.. aku pergi.. pergi sebentar saja. Agar kau tak lagi terabaikan. Agar kau tak lagi. aku merindumu.. hahh.

Semua beres. Setelah melengkapinya dengan ke sana ke mari mencari alamat palsu *lhooo??
Aku siap berangkat, menyambut esokku dengan berlapang hati akan apa yang aku hadapi. Tidurku lebih lelap dan lebih cepat malam ini. Karena aku harus bergegas. Besok jam 08.00 WIB sudah harus ada di perusahaan yang akan mengiring kami penelitian.
Oke okta, ayo singsingkan lengan bajumu. Siap?? Siap...!!!!

Air, Embun, Bintang, Langit, Pelangi

Menghargai hidup, itu artinya menghargai apa2 yang Allah berikan kepada kita. Kesusahan, kesenangan..
adalah bagian agar hidup menjadi lebih hidup.
seperti air yang bermanfaat..
seperti embun yang bening menggeliat
seperti bintang yang rela menunggu jutaan tahun untuk memancaarkan sinaarnya..
seperti langit yang biru berkisah..
seperti pelangi yang tak sempurna bulatnya..

Jangan sekedar diLihat, tapi juga di baca yo..!

Jangan sekedar diLihat, tapi juga di baca yo..!
Semoga bermanfaat.

Label

#dakwah (3) #Labirin (6) #profesi (2) aku-kau (2) BEMERS (1) Cerpen (1) Cinta (12) Hikmah (12) Jejak juang.. (19) Jurusan (2) Melingkar (1) Mimpi (2) pilihan-pilihan (1) Pojok Rumpi.. (10) Setitik CINTA (16) Siklus (7) Ukhuwah (2)
Powered By Blogger